dari kuliah malah jualan pecel lele, sebuah kisah inspiratif
Ini sekedar kisah inspiratif yang harus
saya bagikan teruntuk adek-adek dibawah saya yang masih mengenyam pendidikan
formal seperti SMA atau SMK, saya rasa perjalan hidup seseorang itu berbeda,
tapi bisa saja di setiap kita membaca kisah inspiratif, ada sekecil puzzle yang
bisa di terapkan dalam hidup kita, baiklah ini kisah saya, seseorang yang
berjuang untuk menamatkan perguruan tinggi bermodal jualan pecel lele sampai
bisnis ini dijadikan income pasif, bagaimana saya bisa terjun ke pecel lele
Tahun 2017
Saya lulus SMA tahun 2017, saya jujur
bingung harus apa, melamar pekerjaan yang tak kunjung dapat panggilan, akhirnya
saya bersama orang tua memutuskan untuk buka usaha pecel lele, dari manakah ide
bisnis ini, sejujurnya ini ide kepepet haha, ibaratnya emang ide yang kepaksa
demi menyambung hidup yang lebih baik, tapi its ok karena hidup kadang seperti
sulap yang tiba-tiba kita diberi kejutan tak terduga
Awalnya yang saya bingung bersama orang
tua adalah menciptakan sambel yang enak untuk pelanggan, sudah rahasia umum
dalam pecel lele itu saingan rasa nya ada di sambel, karena kalau kita lihat
tiap kedai selain sambel sama saja, Nasi sama, ayam tidak ada bedanya, tapi
rasa sambel itu yang bisa menarik pelanggan untuk kembali lagi beli di kedai
kita.
Saya ingat, orang tua meracik sambel yang
kurang berasa dilidah, ibarat nya sambel umum yang sudah melekat di lidah
orang-orang, saya pertama bermodal dengan cita rasa yang biasa saja, kalau
harus bilang, sepertinya agak sulit untuk menarik pasar yang lebih banyak,
karena yah racikan sambel aja baru pertama kali dibuat, pasti memerlukan waktu
buat inovasi kedepanya.
Oke pertama kita buka warung pecel lele
itu depan toko las bubut punya sodara ibu saya, untungnya kita tidak dikenakan
sewa, cukup dibersihkan saja tiap setelah tutup warung, hal yang paling berat
itu jarak antara kontrakan ke tempat jualan, sangat penuh derita dan kesusahan,
karena sangat jauh, bahkan saya bersama bapak harus mendorong gerobak yang full
barang seperti gas, tatakan piring, besi semawar, serta perabotan gelas,
piring, menjadi satu gerobak, saya dorong tiap hari ke tempat jualan, kalau
dibilang malu, tentu malu karena pertama kali, saya suka berpikir kalau teman
saya lihat saya mendorong gerobak, muka saya pasti merah menahan malu
Namanya hidup pasti harus berjuang, belum sampai dorong gerobak, setelah gerobak sampai, saya bersama bapak memasang tenda pecel lele, sudah umum rasanya dimanapun tenda pecel lele ibu bongkar-buka, jadi saya melakukan rutin tiap hari, kalau dibilang ribet iya, penuh keringet iya, cape jangan ditanya, tapi namanya hidup mau gak mau harus dicoba dan terus bertahan.
Alhasil ketika semua jadi dan siap
melayanin sekitar jam setengah 6 menjelang magrib, waktunya kita standby
menunggu pelanggan datang, nah ini yang lebih berat, saya hitung dari awal buka
dan sudah memasuki bulan ketiga, konsumen tidak bertambah dan mengalami stak,
saya heran karena kalau dipikir hasil tidak sebanding usaha yang dikerjakan,
akhirnya saya memutuskan bersama orang tua untuk tidak melanjutkan dagang di
toko las bubut milik sodara ibu saya
Perjalanan belum tuntas
Saya ingat sesudah lebaran kita kembali
meracik sambel, dan yah kita ketemu sambel yang bisa dibilang enak dan cukup
buat brandingan pecel lele, tentunya dalam usaha kita harus terus berinovasi
kalau bisa harus agak unik berbeda dari usaha yang sama pada umumnya.
Oke pada waktu itu saya memutuskan untuk
kuliah, saya masuk perguruan tinggi swasta, waktu itu untuk masuk saya ingat
sekali orang tua sampai rela menjual emasnya untuk biaya pertama pendaftaran,
saya melihat itu rasanya mending tidak usah kuliah kalau harus membuat susah orang
tua, tapi apa daya, tugas anak dan orang tua berbeda, saya pada dasarnya
bertugas harus memiliki ilmu yang biasa suatu hari ketika dewasa ilmu itu
berguna untuk kehidupan saya sehari-hari.
Lalu dimana saya buka warung pecel lele
setelah Dari toko las itu, nah sebelumnya saya punya warung juga, tapi yah gitu
warungnya berasa dalam jalan industri pabrik bukan jalan umum, saya rasa emang
agak sulit kalau cari pasar target orang umum, yang ada paling kita target
supir-supir pabrik atau karyawan pabrik dan itu terjadi, kadang saya berucap,
mungkin Allah itu menunjukan jalan dari A tapi pada endingnya kita Harus di B,
dan saya menerima itu, walaupun pasarnya cuma beberapa kategori, tapi saya
tidak menyerah, akhirnya saya terjun mulai berjualan sambil kuliah.
Baca Juga: Cara agar tubuh tidak mudah drop
Gimana cara ngatur waktunya jualan pecel
lele sambil kuliah, waktu itu saya jualan pukul 4 sore, tentatif di kemudian
hari kalau saya pulang kuliah jam 5 bahkan sampai jam 6 sore, orang tua saya
selalu menyiapkan perkakas diwarung, jadi saya tinggal melayani saja, apakah
itu mudah berjualan sambil kuliah, tentunya kita kembali kepada tujuan diri kita
dan keseriusan kita.
Yah saya menganggap waktu tidak boleh
disia-siakan jadi saya harus benar memanfaatkan waktu sebaik mungkin, waktu itu
dari hasil jualan saya menyisihkan 40 ribu sehari yang pada saat itu sudah
cukup untuk biaya semesteran.
Kalau dibilang bagaimana kondisi warung
saya sekarang setelah pindah, jawabannya adalah mengalir tetap lancar walaupun
tidak ramai, hasilnya ada dan cukup, tapi tidak lebih sangat banyak, dan saya
sangat bersyukur pada waktu itu, pikiran saya hanya semoga biaya semesteran
terpenuhi saja.
Bisnis terus berjalan, saya terus
mengulangi rutinitas sehari-hari kuliah dan kerja. cape, bosan, letih, sudah
menjadi rutinitas tiap hari, terkadang teman sebaya saya asyik bermain,
menikmati masa muda nya saya, saya harus kembali ke warung untuk berjualan,
itulah hidup, harus ada yang kita korbankan, tapi apa saya menyesal, sama
sekali tidak, justru saya enjoy dan bersyukur menikmati momen ini, momen yang
membuat hati dan mental saya tangguh
Akhir kisah
Semester akhir, skripsian sudah selesai,
waktunya wisuda, sudah 4 tahun total dari 2017 sampai 2022 saya menikmati
perjalanan yang penuh juang, biaya wisuda sepenuhnya dari hasil pecel lele,
saya tidak membebani orang tua lagi, hingga saya mendapatkan ijazah dan sampai
sekarang pecel lele adalah pondasi hidup saya.
Sekarang bukan lagi soal kuliah, sekarang
momen saya untuk kembali kepada realitas kehidupan yang penuh kejutan, pada
tahun 2023 saya memutuskan untuk mengambil rumah KPR tenor 20 tahun, dari mana
uangnya, tak lain dan tak bukan dari hasil pecel lele lagi, tentu berat, gak
mudah, tapi inilah hidup, keberanian itu kadang porsinya lebih besar dibanding
ide, jadi punya keberanian itu hal yang penting.
Hidup terus berjalan. Apakah saya akan
disini terus di warung pecel lele, saya sama sekali tidak pernah mengatakan iya
akan selamanya, karena hidup selalu berubah, terkadang nasib lain membawa kita
bisa ketempat lebih baik dan mudah atau ke tempat yang penuh kejutan tapi tetap
seru dan hikmat, yeah hidup penuh keringat itu asyik. Sekian.
.jpg)
Posting Komentar